Pengakuan 6 Trainee Idol K-pop yang Kena Pelecehan Seksual

JawaPos.com – Enam dari 10 orang trainee pria yang beberapa di antaranya pernah berpartisipasi dalam acara Produce 101 Season 2 melakukan gugatan hukum kepada CEO agensi dan adiknya yang merupakan investor agensi tersebut karena melakukan pelecehan seksual terhadap mereka. Ke-10 orang trainee tersebut akhirnya mengungkapkan perasaan mereka dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi YTN.

Semula, para trainee yang terdiri dari 10 orang anak laki-laki tampil di Jepang selama satu bulan. Setelah menyelesaikan seluruh aktivitasnya, mereka makan malam di sebuah restoran di Tokyo pada 28 September 2018. Di saat itulah, CEO agensi (sebut saja A) yang merupakan wanita 53 tahun, dan istri adiknya (sebut saja B) melakukan tindakan pencabulan terhadap enam orang trainee.

Dilansir dari Soompi, berikut adalah keterangan para trainee tersebut sebagaimana yang mereka sampaikan kepada YTN!

“Saat pesta makan malam, A dan B melakukan pelecehan seksual terhadap 6 orang, termasuk aku. Itu sangat sulit, tetapi aku khawatir jika aku mengangkatnya (ke publik) itu akan menjatuhkanku sehingga aku tidak bisa debut. Jadi aku membiarkannya memburuk,” ujar Trainee 1.

Ia mengaku telah mendapat perawatan untuk gangguan panik yang dialaminya sejak usia 17 tahun. Hal itu membuatnya lebih baik walaupun setelah kejadian di Jepang itu malah membuatnya lebih sering datang ke rumah sakit.

“Aku berpikir ingin melepas impian saya untuk menjadi seorang penyanyi sekaligus,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Trainee 2. Ia mengatakan, dirinya berjuang untuk mengatasi apa yang telah terjadi. Ia bahkan mengaku mengalami tekanan mental atas kejadian tersebut.

“Dulu aku selalu positif dan bekerja keras, tapi sekarang aku datang ke psikolog dan melakukan pengobatan. Kadang-kadang aku merasa cemas, tanganku gemetar, dan rasa malu menggerayangiku. Aku peka terhadap segalanya dan aku hidup dalam kesakitan,” ujarnya.

Sama seperti dua rekannya, Trainee 3 juga menemui psikiater dan meminum obat tidur akibat insomnia parah yang dialaminya.

“Yang bisa kupikirkan hanya aku ingin keluar dari perusahaan ini,” katanya.

Sementara itu, Trainee 4 berbicara sambil menangis. Ia mengatakan telah bermimpi menjadi bintang idola selama 10 tahun dan memilih berhenti setelah mengalami pelecehan seksual tersebut.

“Inilah yang aku lihat dan aku alami di industri entertainment. Itu membuatku skeptis,” katanya.

Salah satu saksi yang masih di bawah umur, Trainee 5, mengatakan bahwa ia melihat segalanya. Ia mengaku melihat semua yang terjadi dan mengalami kesulitan untuk bisa berdamai dengan situasi tersebut.

“Ini adalah impianku sejak menjadi siswa sekolah menengan dan aku berpikir ini adalah kenyataan di industri entertainment. Aku mengalami saat yang menyakitkan,” terangnya.

Menurut Trainee 1, anak perempuan A yang juga turut hadir saat makan malam sempat memberitahu ibunya untuk berhenti melakukan itu. Trainee 4 bahkan mengaku bahwa ia dan teman-temannya merasa menjadi pria pendamping bagi kedua perempuan tersebut.

Dari pengalaman mereka dengan perusahaan itu, sebelum kejadian yang menimpa enam orang trainee itu, sudah banyak trainee lain yang menyebutkan bahwa perusahaan telah menyalahgunakan wewenang. Termasuk juga melakukan tuntutan sepihak, kesepakatan yang salah, serta perlakuan yang tidak manusiawi.

“Bagiku, ketika berada di Jepang itu aku mengalami kesulitan karena jadwalku. Semua perangkat elektronik, termasuk ponsel dilarang. Saat berada di Jepang ada gempa bumi dan topan, aku tidak bisa menghubungi keluarga dan teman-temanku yang khawatir,” ujar Trainee 6.

Ia mengatakan, kendati mengomunikasikan hal tersebut dengan agensi, tetapi ia malah diabaikan. Tidak hanya itu, untuk kontrak, agensi juga menuntut revisi satu sisi dengan mengatakan bahwa kontrak itu untuk kepentingan peserta pelatihan.

“Mereka mengatakan, jika aku tidak mematuhi maka kami tidak akan bisa debut,” katanya.

Trainee 5 mengatakan, agensi memberitahu mereka untuk pergi ke Jepang dan melakukan pelatihan di sana. Namun ia malah berpikir bahwa perginya mereka ke Jepang saat itu juga hanya untuk keuntungan semata.

“Di sana tidak ada kinerja apapun. Kami dikurung di asrama dan semua alat komunikasi disita. Itu sulit, tapi aku percaya janji mereka kepada kami bahwa kami akan diberi istirahat setelah konser Jepang. Tapi mereka tidak menepati janji itu dan tiba-tiba meminta revisi kontrak. Kami kehabisan kepercayaan pada perusahaan,” katanya.

Para trainee itu juga seringkali diberi pekerjaan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Tak heran jika Trainee 7 merasa bekerja tapi tidak ada debut resmi selayaknya bintang idola K-pop lainnya.

“Aku merasa seperti bagian dari grup yang hanya bekerja di dalam gedung konser untuk mencari keuntungan tanpa debut resmi,” katanya.

“Aku menandatangani kontrak eksklusif dengan syarat bahwa aku tidak pergi ke konser Jepang, tapi itu tidak terpenuhi sama sekali. Walaupun aku sakit, aku tetap diminta tampil, dan tidak diperlakukan seperti manusia,” ujar Trainee 8.

Sementara itu, Trainee 9 merupakan orang luar Korea. Ia mengaku suatu hari ia mengalami ruam di tubuhnya. Namun karena dirinya tidak memiliki asuransi dan pengobatan dirinya akan mahal, perusahaan tak mau membawanya ke rumah sakit.

“Aku tidak dalam kondisi yang baik di Jepang, tetapi pada akhirnya aku tidak bisa berobat ke rumah sakit,” katanya.

Trainee 10 juga mengaku bahwa dirinya memiliki masalah dengan ginjal sehingga perlu melakukan pemeriksaan tahunan. Hasil dari pemeriksaannya menyatakan bahwa dirinya tidak layak untuk bekerja aktif.

“Tetapi mereka bersikeras untuk memeriksakanku setelah konser di jepang. Tetapi mereka tidak menepati janji,” katanya.

Sebagai penutup, Trainee 2 pun mengaku bahwa ketika ia kembali ke Korea, ia meminta kepada presiden perusahaan untuk menepati janji bahwa dirinya tidak akan pergi ke Jepang pada 7 Oktober 2018.

“Namun itu tidak diterima dan aku pun diperintahkan untuk meninggalkan asrama. Mereka bahkan mengubah kata sandi ruang latihan kami, tempat barang-barang pribadi kami berada,” pungkasnya.

Editor           : Deti Mega Purnamasari