Mengenal Bahaya Kuman di Lambung yang Diduga Dialami Torro Margens

JawaPos.com – Aktor Torro Margens meninggal di usia 68 tahun, Jumat (4/1) dini hari. Belakangan diketahui, Torro Margens meninggal akibat infeksi lambung yang dideritanya.

Seperti yang diakui Toma, anak Torro Margens, kalau selama ini sang ayah tidak pernah mengeluh sakit di pencernaan. “Iya baru ketahuan kemarin itu. Sebelumnya nggak pernah ada keluhan. Dia mah kuat banget, masih syuting terus,” pungkas Toma.

Jika ditelaah secara medis, infeksi lambung salah satunya bisa disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori (H pylori). Seseorang yang terkena kuman ini bisa tanpa gejala, atau bisa jadi pasien seperti merasakan sakit maag dan datang dengan perdarahan saluran cerna atas.

Gambaran kelainan yang terjadi bisa berupa gangguan fungsional lambung, luka permukaan dinding lambung, tukak lambung atau usus dua belas jari, bahkan sampai kanker lambung.

“Pengalaman klinis saya masih menemukan pasien yang datang karena perdarahan lambung dan ternyata dari hasil pemeriksaan endoskopi, didapatlah kanker pada lambung pasien tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut pada pasien tersebut ditemukan infeksi kuman H pylori sebagai penyebab kanker lambung tersebut,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB yang juga Ahli Endoskopi Gastrointenstinal kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO sendiri sudah menyatakan bahwa kuman ini sebagai zat karsinogen yang bisa menyebabkan kanker. Saat ini laporan dari berbagai pusat penelitian termasuk juga dari sentra-sentra pendidikan di Indonesia yang menunjukkan bahwa prevalensi infeksi H pylori ini memang sudah menurun tetapi tetap harus diwaspadai.

“Bisa juga kematian Almarhum Toro Margens karena infeksi kuman ini,” jelasnya.

Dalam 3 tahun terakhir sejak Januari 2014 sampai tahun 2017, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia khususnya Kelompok Studi Helicobacter pylori Indonesia (KSHPI) melakukan penelitian di 20 RS Indonesia, baik yang mempunyai fasilitas maupun RS yang belum mempunyai fasilitas endoskopi. Penelitian ini bekerja sama dengan peneliti Jepang Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Oita, Jepang. Prof Yamaoka sendiri menjadi guru besar di Universitas Houston USA.

Penelitian Helicobacter pylori ini juga merupakan bagian dari survei endoskopi yang didukung oleh Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy (APSDE), organisasi perhimpunan endoskopi saluran cerna Asia Pasifik. Dari hasil penelitian ini didapatkan prevalensi dari kuman H pylori di Indonesia hanya 22,1 persen.

Angka ini menunjukan bahwa 1 dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) mengalami infeksi H pylori. Suku bangsa dan sumber air minum menjadi faktor risiko terjadi infeksi kuman H pylori.

“Oleh karena ini kita tetap harus mewaspadai bahwa kuman ini ada di sekitar kita. Mengingat dampak klinis yang terjadi akibat infeksi ini begitu luas dari hanya dispepsia fungsional, gastritis kronis, ulkus peptikum, bahkan penyakit ini bisa menyebabkan terjadinya kanker lambung seperti yang saya sebutkan di atas,” paparnya.

Editor      : Nurul Adriyana Salbiah
Reporter : Marieska Harya Virdhani