Denada Ungkap Shakira Kerap Katakan Rindu Indonesia

JawaPos.com – Semenjak mengetahui bahwa putrinya, Shakira Aurum, menderita leukimia, Denada langsung fokus merawat sang buah hati. Bahkan, Denada rela bolak-balik Jakarta Singapura untuk bekerja dan merawat anaknya yang sedang menjalani pengobatan.

Saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, belum lama ini, Denada mengaku memiliki tempat favorit  menghabiskan waktu dengan Shakira di Singapura. Tempat itu diklaim sebagai tempat yang bisa mendidik dan membuat anak-anak yang memiliki kondisi sama seperti Shakira untuk kembali bangkit.

“Ada satu tempat yang luar biasa sekali, tapi saya nggak tahu ini di Indonesia ada apa nggak. Jadi, ada satu tempat yang diisi oleh anak-anak dengan kondisi yang sama seperti Shakira. Jadi, mereka menjalani treatment untuk kanker. Jadi, mereka tidak diperbolehkan pergi ke tempat umum atau sekolah. Jadi, itu dibuat oleh organisasi non profit,” ujar Denada.

Miliki Tempat Favorit di Singapura, Putri Denada Kerap Ungkap Rindu IndonesiaPutri Denada, Shakira harus menjalani serangkaian pengobatan di Singapura sejak Juni 2018, akibat mengidap leukimia. (Instagram Denada)

Tetapi, Denada menjelaskan pada Shakira bahwa tempat tersebut bukan sekolah formal. Melainkan, sejenis rumah singgah sehingga dia tetap bisa bermain sambil belajar.

“Ya, aku udah jelasin ke Shakira kalau tempat ini bukan sekolah tapi bisa jadi tempat buat shakira bermain. Semoga, dia happy-happy aja,” papar Denada.

Meskipun merasa senang berada di tempat tersebut selama di Singapura, Denada mengungkapkan bahwa putri semata wayangnya ittu sempat beberapa kali merindukan tanah kelahiranya, yakni Indonesia.

“Iya, dia udah beberapa kali bilang kangen sama Indonesia. Namanya anak umur segitu, kita apapun penjelasan berat kita berusaha menjadi ringan,” pungkas Denada.

Diketahui, Shakira mulai menjalani perawatan kesehatan di Singapura sejak Juni 2018. Masih berusia 6 tahun, Shakira sudah harus menjalani kemoterapi karena mengidap leukimia.

Editor           : Novianti Setuningsih
Reporter      : Aginta Kerina Barus