Ahmad Dhani Tegaskan Pembuktian Hukum Harus Konkret

JawaPos.com – Menanggapi replik Jaksa Penuntut Umum (JPU), kubu terdakwa ujaran kebencian Ahmad Dhani menganggap bahwa tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa adalah wajar dilakukan. Namun, pihak Dhani menegaskan bahwa cuitan yang dituduhkan sebagai ujaran kebencian bukan dibuat langsung oleh pentolan band Dewa 19 tersebut.

“Nggak mungkin juga jaksa nggak konsisten dengan apa yang dia katakan dalam tuntutannya. Cuma ada beberapa catatan kami, terutama terkait dengan masalah fakta. Dua cuitan yang dibuat oleh orang lain dan bukan oleh Mas Dhani, ternyata tidak bisa dibantah secara tegas oleh Jaksa Penuntut Umum,” ujar salah satu kuasa hukum Dhani, Hendarsam Marantoko, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (7/1).

Sementara itu, kuasa hukum Ahmad Dhani lainnya, Ali Lubis, mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan duplik sebagai tanggapan dari replik jaksa.

“Nanti, kami akan membuat tanggapan lagi, yaitu duplik minggu depan (14 Januari 2019) terkait itu lagi. Kami akan memperkuat bahwasanya dakwaan mas Dhani dari awal cuma terkait tiga tweet tidak ada tweet lain yang dikait-kaitkan,” tegas Ali.

Hal senada juga disampaikan Ahmad Dhani. Menurutnya, semua bukti sudah jelas karena smartphone miliknya sudah disita. Sedangkan, aplikasi Twitter-nya terpasang pada handphone yang sudah disita tersebut.

Handphone saya kan sudah disita, harusnya kan bisa dilihat. Harusnya dari awal polisi sudah ada digital forensik. Digital forensiknya ini yang kurang. Harusnya di cek bener nggak ada sidik jari saksi kita dua orang itu ada di hp itu. Itu kan bentuk pembuktian hukum harus konkret. Tidak bisa pendapat,” pungkas Dhani.

Diketahui, sidang lanjutan ujaran kebencian dengan terdakwa Ahmad Dhani kembali digelar di PN Jakarta Selatan, pada 7 Januari 2019. Dalam sidang tersebut jaksa Yanti membacakan 8 lembar replik yang intinya masih seperti tuntutan.

Ahmad Dhani diketahui dituntut dua tahun penjara. Dalam pertimbangannya, jaksa menyatakan tiga cuitan Dhani di akun Twitter-nya sebagai ujaran kebencian. Tiga ujaran tersebut, yakni ‘Yang menistakan agama si Ahok yang diadili KH Ma’ruf Amin, siapa saja mendukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya, dan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa penista agama jadi gubenur, kalian waras’

Editor      : Novianti Setuningsih
Reporter : Aginta Kerina Barus