Anjing Mirip Srigala Ditemukan di Dataran Tinggi Papua

Anjing Mirip Srigala Ditemukan di Dataran Tinggi PapuaAnjing Papua (ist.)

Manokwari – Para peneliti menemukan spesies anjing baru yang hidup di kawasan Grasberg, di Tembagapura, Mimika, Papua. Anjing itu serupa serigala yang tidak dapat menggonggong, tetapi hanya mengeluarkan suara teriakan panjang atau melolong.

“Memiliki ciri-ciri mirip Dingo di Benua Australia. Karena belum memiliki nama ilmiah, kami kemudian menyebutnya ‘singging dog’,” kata peneliti dari Universitas Cendrawasih Papua, Hendra Kurniawan Maury kepada detikcom (10/10/2018).

Menurut Hendra, pada tahun 1989 seorang fotografer berkebangsaan Amerika sempat mengabadikan hewan ini. Saat itu ia mendaki Puncak Mandala, Papua.

“Dokumentasi ini, sempat ditayangkan oleh stasiun televisi National Geographic dan menimbulkan banyak spekulasi dan proyeksi dari zoologi di berbagai belahan bumi tentang keberadaan dinggo di Tanah Papua. Anjing ini mirip serigala. Hidup di ketinggian 7.500 meter di atas permukaan laut,” ujar Hendry.

Penelitian terhadap singging dog pertama kali dilakukan di tahun 2016. Peneliti datang dari dari Universitas Negeri Papua dan New Guenia Highland Wild Dog Foundation, James Mcintyre. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi yang dilakukan secara langsung maupun menggunakan kamera trap untuk mendeteksi keberadaan anjing-anjing daratan tinggi.

Dari penelitian itu, diketahui singing dog hidup di dataran tinggi, minimal 7 ribu meter di atas permukaan laut. Hewan ini biasa hidup berkelompok yang terdiri dari empat ekor anjing.

Pimpinan kelompok adalah anjing jantan, dengan tiga ekor betina. Oleh masyarakat asli suku Amume dan Kamoro, aning ini dianggap sebagai nenek moyang mereka.

Diakui Hendra, pada tahun 2016 higga 2018 tim dari Universitas Cendarwasih telah melakukan penelusuran tentang singging dog untuk mencari tahu apakah lebih primitif dibanding dingo atau lebih modern.

“Jika dilihat dari beberapa ciri fisiknya, singging dog lebih primitif dibandingkan Dingo. Ciri fisiknya seperti lebar kepalanya, kemudian dari susunan kanisnya yang lebih besar, menunjukan singging dog lebih primitif dibandingkan dingo,” jelas Hendra.

Para peneliti masih melakukan survei untuk membandingkan cir-ciri populasi Highland Wild Dog (HWD) di daerah Pegunungan Tengah Papua dengan New Guinea singging dog (NGSD) yang ada di penangkaran. Selain itu HWD yang diamati di daerah yang terisolasi ini, terlihat memiliki ukuran tubuh yang agak lebih besar dari NGSD.

HWD memiliki tubuh yang lebih besar tinggi dan panjang ukuran tubuhnya dari NGSD dan HWD secara morfologi lebih mirip dengan anjing dingo di Australia.

Penemuan spesies baru anjing dataran tinggi ini dipublikasikan pada saat pelaksanaan Internasional Conference On Biodiversity, Ecotourism and Cretive Economy atau ICBE 2018 di kantor Gubernur Papua Barat.
(asp/asp)